Pages

Minggu, 26 Mei 2013

Cara setan merampas ikhlas


            Setan memiliki sekurangya tiga jalan yang amat licin untuk menglincirkan manusia kedalam riya’ , baik mereka sadari atau tidak. Orang –orang saleh pun tidak sedikit yang tergelincir dalam preangkap riya’ yang dibikin setan ini.

                Perangkap pertama, seperti perkataan Abu Hamid al-Ghazali, setan mendorong seseorang untuk memyembuyikan ketaatan agar tidak dilihat oleh manusia. Namun demikian, ketika melihat orang lain ia ingin agar mereka yang mengawali untuk memberi salam kepadanya; ia senang kalau mereka mendatanginyadengan wajah ceria disertaipenghormatan dan pujian kepada diriny. Ia merasa senang kalau mereka bersedia memenuhi kebutuhanya. Melayani serta memberi kelapangnan dan kemudahan-kemudahan baginya. Jika mereka tidak bersikap demikian, maka ia merasa kecewadan sempit hatinya. Diam-diam ia berharap mendapat penghormatan manusia atas ketaatan yang disembunyikanya.

                Kedua, menjadi ikhlas haya sebagai wasilah (jalan; perantara) bukan ghayah (tujuan). Dengan kata lain, menjadikan ikhlas haya sebagai jalan guna mendapatkan kebaikan dunia.

                Dihikayatkan bahwa seseorang mendengar kata-kata ini, “barangsiapa beribadah dengan ikhlas karena Allah selama 40 hari, maka akan memancar sumber-sumber nikmat dari hati dan lisan. Lalu ia menayakna hal itu kepada ahli makrifat. Ahli makrifat itu berkata, “sesungguhnya kamu ikhlas demi mendapatkan hikmah, bukan ikhlas karena Allah.”

                Contoh sederhana lainya, pergi ke mesjid dengaan berjalan kaki atau bolak-balik ke tanah suci untuk beribadah haji atau ibadah lainya yang mengandung unsur raga. Ketika melakukan ibadah-ibadah tersebut, terbesit didalam hati pada orang bersangkutan bahwa ia melakukanya, selain ikhlas karena Allah, juga untuk berolahraga dan melancarkan peredaran darah. Maka, sihlahkan saja pergi kemesjid dengan berjalan kaki atau mondar-mandir ke tanah suci untuk berhaji. Yang penting, ikhlaskan semua itu murni karena Allah. Soal kesehata jasmani dan kelancaran peredaran darah dengan sendirinya tampa diniatkan. “mengandakan niat” seperti itu, meski tidak membatalkan keseluruhan pahala, setidaknya mengurangi.

                Ketiga, menghinakan diri dihadapan manusia supaya dinilai rendah hati supaya mereka memujinya. Hal ini pun dapat merusakkeikhlasan kita karena pujian manusia dapat membiuat kita bangga, yang akhirnya bisa mengelincirkan kita kejalan ‘ujub.  

Sumber: Renungan Harian Seorang Muslim, penulis; Dr. Abad Badruzaman, Lc,. M.Ag.

Tidak ada komentar:

 

Kalender Hijriyah


Blogroll