Setan
memiliki sekurangya tiga jalan yang amat licin untuk menglincirkan manusia
kedalam riya’ , baik mereka sadari
atau tidak. Orang –orang saleh pun tidak sedikit yang tergelincir dalam
preangkap riya’ yang dibikin setan
ini.
Perangkap
pertama, seperti perkataan Abu Hamid al-Ghazali, setan mendorong
seseorang untuk memyembuyikan ketaatan agar tidak dilihat oleh manusia. Namun
demikian, ketika melihat orang lain ia ingin agar mereka yang mengawali untuk
memberi salam kepadanya; ia senang kalau mereka mendatanginyadengan wajah ceria
disertaipenghormatan dan pujian kepada diriny. Ia merasa senang kalau mereka
bersedia memenuhi kebutuhanya. Melayani serta memberi kelapangnan dan
kemudahan-kemudahan baginya. Jika mereka tidak bersikap demikian, maka ia
merasa kecewadan sempit hatinya. Diam-diam ia berharap mendapat penghormatan
manusia atas ketaatan yang disembunyikanya.
Kedua, menjadi ikhlas haya sebagai
wasilah (jalan; perantara) bukan ghayah (tujuan). Dengan kata lain, menjadikan
ikhlas haya sebagai jalan guna mendapatkan kebaikan dunia.
Dihikayatkan
bahwa seseorang mendengar kata-kata ini, “barangsiapa beribadah dengan ikhlas
karena Allah selama 40 hari, maka akan memancar sumber-sumber nikmat dari hati
dan lisan. Lalu ia menayakna hal itu kepada ahli makrifat. Ahli makrifat itu
berkata, “sesungguhnya kamu ikhlas demi mendapatkan hikmah, bukan ikhlas karena
Allah.”
Contoh
sederhana lainya, pergi ke mesjid dengaan berjalan kaki atau bolak-balik ke
tanah suci untuk beribadah haji atau ibadah lainya yang mengandung unsur raga.
Ketika melakukan ibadah-ibadah tersebut, terbesit didalam hati pada orang
bersangkutan bahwa ia melakukanya, selain ikhlas karena Allah, juga untuk
berolahraga dan melancarkan peredaran darah. Maka, sihlahkan saja pergi
kemesjid dengan berjalan kaki atau mondar-mandir ke tanah suci untuk berhaji.
Yang penting, ikhlaskan semua itu murni karena Allah. Soal kesehata jasmani dan
kelancaran peredaran darah dengan sendirinya tampa diniatkan. “mengandakan
niat” seperti itu, meski tidak membatalkan keseluruhan pahala, setidaknya
mengurangi.
Ketiga, menghinakan diri dihadapan
manusia supaya dinilai rendah hati supaya mereka memujinya. Hal ini pun dapat
merusakkeikhlasan kita karena pujian manusia dapat membiuat kita bangga, yang
akhirnya bisa mengelincirkan kita kejalan ‘ujub.
Sumber: Renungan Harian Seorang Muslim,
penulis; Dr. Abad Badruzaman, Lc,. M.Ag.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar