NASAB
Beliau adalah Abu Adbillah Syamsuddien Muhammad bin Abi Bakr bin Ayub
bin Sa`ad bin Huraiz bin Makiy Zainuddien Az-Zar`i Ad-Dimasyqi
Al-Hambali, terkenal dengan sebutan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah.. Beliau
seorang Imam besar dan Ulama pilih tanding pembelas sunnah dan
pemberantas bid’ah.
KELAHIRANNYA
Buku – buku biografi sepakat bahwa ia lahir 691 H. Shafadi muridnya
menyebutkan secara rinci tentang hari dan bulan kelahirannya. Ia lahir
pada 7 Shafar 691 H. keterang yang sama disampaikan pula oleh Ibnu
Taghri Bardi, Dawudi dan Suyuthi.
SEBAB POPULERNYA DENGAN SEBUTAN IBNU QAYYIM AL-JAUZIYAH
Di kalangan para ulama dahulu maupun kontemporer, Imam besar ini
popular dengan sebutan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Sebagian ulama
menyingkatnya dengan hanya menyebut Ibnu Qayyim. Sebutan terakhir lebih
popular di kalangan ulama kontemporer.
Sebab populernya nama ini adalah karena ayahanda beliau, Imam Syaikh
Abu Bakar bin Ayub Az-Zar`i, beberapa lama menjabat sebagai
Qayyim ‘kepala’ Madrasah Al-Jauziyah di Damaskus. Maka, ayahandanya dikenal dengan sebutan
“Qayyim Al-Jauziyah” (Kepala Madrasah Al-Jauziyah).
Anak – anak dan keturunannya pun dikenal dengan sebutan tersebut. Maka,
salah seorang dari mereka dipanggil dengan sebutan “Ibnu Qayyim
Al-Jauziyah”. Maka dari itu, ia bukan satu-satunya yang mendapat sebutan
ini. Hanya saja, ketika sebutan ini disampaikan secara mutlak, maka
beliaulah
rahimahullah yang dimaksud, karena sebutan ini nyaris telah menyatu dengan namanya.
KELUARGANYA
Ia tumbuh di sebuah keluarga yang kental dengan keilmuan, keagamaan,
ke-wira`ian dan keshalihan.. Ayahnya Abu Bakar bin Ayub Az-Zar`i adalah
Qayyim (kepala) Madrasah Al-Jauziyah. Beliau seorang syaikh terpandang,
wira`i, dan ahli ibadah. Seorang yang ahli di bidang ilmu faraid, dari
beliau sang putra, Syamsudin Ibnu Qayyim
rahimahullah menimba ilmu faraid ini
Adiknya, Zainudin Abu Faraj Abdurrahman bin Abi Bakar, berusia dua
tahun lebih muda. Kebanyakan guru adiknya sama dengan gurunya, adiknya
ini seorang imam yang diikuti. Kepadanya Ibnu Rajab dan beberapa ulama
lain berguru, ia wafat pada tahun 769 H.
Keponakannya Imadudin Abul Fida` Isma`il bin Zainudin Abdurrahman,
salah seorang ulama yang terpandang, ia memiliki sebagaian besar
literature pamannya, Syamsudin Ibnu Qayyim. Wafat tahun 799 H.
PERMULAAN MENUNTU ILMU
Ibnu Qayyim rahimahullah menuntu ilmu di usia dini, tepatnya sebelum
usia tujuh tahun. Itu bisaa diketahui dengan membandingkan tahun
kelahirannya (691 H) dan tahun kewafatan sejumlah gurunya seperti Abul
Abbas Ahmad Abdurrahman Al-Maqdisi yang popular dengan sebutan Ibnu
Syihab Al-`Abir, wafat pada tahun 697 H. Ibnu Qayyim telah meriwayatkan
dari Ibnu Syihab beberapa kisah tafsir mimpi dalam
Zadul Ma`ad. Kemudian ia berkata; “
Beginilah
keadaan guru kami dan keahlian beliau dalam ilmu tafsir mimpi. Saya
pernah medengar beberapa bagian tentang tafsir mimpi darinya, akan
tetapi saya belum berkesempatan membaca di hadapan beliau tentang ilmu
ini, dikarenakan ketika itu saya masih kanak-kanak dan beliau keburu
wafat, semoga Allah melimpahkan rahmat kepada beliau.”
PERJALANANNYA MENUNTUT ILMU
Perjalannya menuntu ilmu bisaa dilakukan oleh para ulama. Mata
siapapun yang membaca biografi seorang ulama hampir dipastikan selalu
menemukan penjelasan tentang perjalanannya dalam rangka menuntut ilmu.
Anehnya, kami tidak melihat para penulis biografi Ibnu Qayyim
menampilkan selain perjalanan hajinya dan kisah perjalanan yang
disebutkan oleh Ibnu Qayyim
rahimahullah sendiri dalam
Hidayatul Hayara yang mengisahkan perjalanannya ke Mesir. Ia mengatakan;
“Saya
pernah melakukan diskusi di Mesir dengan seorang tokoh yang dianggap
paling hebat ilmu dan kepemimpinannya oleh orang-orang Yahudi.”
Bakr Abu Zaid mengatakan:
“Bagaiamanapun, jika perjalanan menuntut Ilmu Ibnu Qayyim tidak dikenal luas, maka ia memiliki alasannya;
Beliau
rahimahullah hidup di suatu masa di mana ilmu-ilmu
keislaman telah disusun dan disebarluaskan di berbagai penjuru dunia.
Damaskus pada masa itu termasuk salah satu kawasan yang dikenal kaya
dengan ilmu pengetahuan. Damaskus merupakan kiblat dan persinggahan
perjalanan para ulama. Ia menjadi impian semua penuntut ilmu dan orang –
orang yang ingin memuaskan dahaga ilmu.
Maka tidak mengherankan jika perjalanan menuntut ilmu Ibnu Qayyim
rahimahullah
tidak popular. Bagaiamana mungkin ia pergi menuntut ilmu sedangkan
kondisi Damaskus di bidang ilmu pengetahuan seperti itu ? Terlebih,
Syaikhul Islam wal Muslimin, sang lautan ilmu yang tidak pernah kering,
yakni Syaikh Abul Abbas Ahmad bin Taimiyah
rahimahullah justru dating ke kota tersebut. Manusia yang paling beruntung adalah yang didatangi rizkinya di depan piintu rumahnya.
PERPUSTAKAANNYA
Karena Ibnu Qayyim
rahimahullah sangat mencintai ilmu, maka
hal itu melahirkan kecintaannya kepada buku-buku, tidak mengherankan
jika para penulis biografinya secara khusus menyebutkan buku-buku yang
ia miliki dan kegemarannya membaca buku. Ia memiliki banyak buku yang
tidak dimiliki oleh orang lain.
Al-Hafizh Ibnu Rajab
rahimahullah mengatakan,
“Ia sangat mencintai… dan banyak memiliki buku. Ia memiliki buku-buku yang tidak dimiliki oleh orang lain”
Al-Hafizh Ibnu Katsir
rahimahullah berkata,
“Ia memiliki
sangat banyak buku, tidak mudah bagi orang lain untuk memiliki
buku-buku karya ulama salaf maupu khalaf satu persen dari yang beliau
miliki.”
Shiddiq Khan Qanuji berkata,
“Ia sangat menggemari buku-buku, sehingga memiliki literature yang jumlahnya tak terhitung.”
Mengenai bagaimana nasib buku-bukunya itu, Al-Hafizh Ibnu Hajar
rahimahullah mengatakan,
“Ia
sangat menggemari buku sehingga memiliki literature yang tak terhitung
banyaknya. Akhirnya anak-anaknya menjual buku-buku tersebut setelah ia
wafat, dalam jangka waktu yang sangat panjang, kecuali buku-buku yang
mereka pilih untuk mereka simpang sendiri.”
Ibnu Imad mengatakan bahwa sebagian dari buku-buku tersebut disimpan
oleh keponakannya, Imaddudin. Ibnu Imad berkata tentang biografi
Imaddudin,
“Ia seorang tokoh yang terpandang dan memiliki banyak
buku sangat berharga, yaitu buku-buku milik pamannya, Syamsudin Ibnu
Qayyim rahimahullah. Ia tidak pelit untuk meminjamkan buku-bukunya.”
KEILMUANNYA
Ibnu Qayyim belajar dan menguasai hampir seluruh ilmu syariat dan
ilmu alat, seperti Tauhid, Ilmu Kalam, Tafsir, Hadits, Fiqih, Ushul
Fiqh, Faraid, Bahasa, Nahwu dan sebagainya.
Ibnu Rajab
rahimahullah berkata,
“Ia mendalami madzhab
Hambali hingga menguasai dan berfatwa. Ia menguasai berbagai cabang ilmu
keislaman. Penguasaannya dalam bidang ilmu Tafsir tidak tertandingi
seorangpun, di bidang Ushul Fiqh, ia adalah pakarnya, di bidang Hadits
baik menyangkut makna, fiqih, maupun cara pengambilan kesimpulan yang
rumit darinya (istinbath), ia juga tak terkalahkan. Ia sangat menguasai
Ilmu Fiqih, Ushul Fiqih, Bahasa Arab, Ilmu Kalam, Nahwu dan sebagainya.
Ia juga mendalami Ilmu Tasawuf, mengerti ucapan, isyarat, dan
seluk-beluk para ahli tasawuf. Di seluruh bidang ini ia memiliki
penguasaan ilmu yang sangat luas.
Imam Adz-Dzahabi
rahimahullah berkata,
“Ia memiliki
perhatian terhadap hadits, baik terkait dengan matan maupun perawinya,
ia juga bnyak bergelut dan menguasai Ilmu Fiqih, Nahwu, Ushuluddin dan
Uhsul Fiqh.”
Ibnu Katsir
rahimahullah berkata,
“Ia mendengar hadits,
banyak bergelut dengan ilmu dan menguasai berbagai bidang ilmu, terutama
Ilmu Tafsir, Hadits serta Ushuluddin dan Ushul Fiqh.”
Ibnu Taghri Burdi
berkata,
“Ia sangat menonjol dalam berbagai bidang ilmu, diantarannya: Ilmu Tafsir, Ilmu Nahwu, Ilmu Hadits, Ilmu Ushul dan Ilmu Furu`.”
IBADAHNYA
Siapa yang membaca buku-buku karya Ibnu Qayyim, utamanya buku
Madarijus Salikin, niscaya melihat tanda-tanda yang jelas bahwa Ibnu Qayyim
rahimahullah
sangat memperhatikan amalan hati; dengan keyakinan, iftiqar, ibadah,
bersandar dalam kesulitan, dan inabah kepada Allah. Ia sangat kaya
dengan amalan hati ini, termasuk salah satu ulama amilin yang merupakan
keluarga dan golongan yang diistimewakan Allah.
Al-Hafizh Ibnu Rajab
rahimahullah mengatakan,
“Beliau
rahimahullah seorang yang tekun beribadah dan bertahajud, shalatnya
panjang, banyak beribadah dan berdzikir, tenggelam dalam cinta, inabah,
istighfar, juga menyatakan kefakiran dan penyesalan kepada Allah,
bersimpuh di hadapan-Nya di depan pintu ibadah. Saya (Ibnu Rajab) tidak
pernah melihat orang beribadah seperti dia.”
Kemudian Ibnu Rajab mengatakan,
“Beliau juga berhaji beberapa
kali dan pernah bermukim di sekitar ka`bah. Para penduduk mekkah
bercerita bagaimana kesungguhannya dalam menjalankan ibadah dan sering
bertawaf, hal yang menjadikan banyak orang mengaguminnya.”
Al-Hafizh Ibnu Katsir
rahimahullah berkata,
“Saya tidak
mengetahui di dunia ini di zaman kami yang lebih banyak beribadah
daripada dia, ia bisaa shalat sangat panjang, memanjangkan ruku` dan
sujudnya. Kadang-kadang sebagian shahabatnya mencelanya, tapi ia tidak
surut dari kebisaannya itu, semoga Allah melimpahkan rahmat kepadanya.”
Al-Hafizh Ibnu Hajar
rahimahullah berkata,
“Seusai melaksanakan shalat Subuh, ia bisaa duduk di tempat untuk berdzikir kepada Allah hingga siang, ia (Ibnu Qayyim-ed) mengatakan, ‘Inilah sarapanku, jika aku duduk sekali saja, maka aku kehilangan kekuatan.”
AKHLAKNYA
Al-Hafizh Ibnu Katsir
rahimahullah berkata,
“… Bacaanya
bagus, akhlaknya pun demikian, sikapnya kepada orang lain pun sangat
simpatik, tidak pernah iri, menyakiti, mencela atau mendengki seorang
pun.”
Secara umum, integritas, urusan, dan keadaannya jarang diperbincangkan. Ia seorang yang baik dan berakhlak mulia.
PEKERJAANNYA
Pekerjaannya berdasarkan kesimpulan kami dari beberapa buku biografi adalah:
- Sebagai Imam di Al-Jauziyah
- Mengajar di Madrasah Shadriyah dan beberapa tempat lain.
- Memberikan Fatwa
- Menulis
MADZHABNYA
Ibnu Qayyim
rahimahullah dalam berbagai biografi
mengenainya, disebut sebagai bermadzhab Hanbali, sebagaimana para guru
dan muridnya. Namun yang ia lakukan adalah mengikuti pendapat yang
didukung oleh dalil seraya membuang fanatisme madzhab yang tercela.
Bagaiamana mungkin ia fanatik kepada suatu madzhab sedangkan ia membenci
taqlid dan selalu mengingatkan dan menghimbau orang-orang yang
bertaqlid untuk mempelajari ilmu. Ia berbicara panjang lebar tentang
hokum Ijtihad dan Taqlid di dalam bukunya
I`lamul Muwaqqi`in dalam lebih dari seratus halaman.
Sikap Ibnu Qayyim
rahimahullah dalam persoalan ini tidak
seperti orang-orang yang berlebihan sehingga merendahkan kedudukan para
ulama empat madzhab, seperti para penganut Madzhab Zhahiri ekstrim dan
orang-orang yang satu pandangan dengan mereka, di mana mereka menyikapi
bid`ah taqlid dan bid`ah merendahkan ulama salaf. Ringkasnya, manhaj
Ibnu Qayyim adalah mencari dalil dengan tetap menghormati para imam
madzhab.
Beliau
rahimahullah berkata dalam
I`lamul Muwaqqi`in dalam pembahasan Hiyal,
“Yang
kedua; Mengenali keutamaan, kedudukan, dan hak para ulama. Keutamaan
ilmu dan nasihat mereka karena Allah dan Rasul-Nya tidaklah mengharuskan
menerima apapun yang mereka katakana. Kesalahan fatwa mereka dalam
persoalan yang mereka tidak tahu bagaiamana sabda Rasul mengenainnya,
sehingga berpendapat sebatas ilmu mereka sedangkan pendapat yang benar
bertentangan dengannya, maka hal ini tidak mengharuskan kita
mencampakkan ucapan mereka begitu saja secara keseluruhan, terlebih lagi
merendahkan dan mecela mereka. Kedua sikap ini berlebihan, menyimpang
dari jalan yang lurus. Jalan yang lurus adalah kita tidak mengatakan
mereka berdosa, tapi juga tidak mengatakan mereka ma`shum.”
METODE PENULISANNYA
Metode penulisannya memiliki ciri khas menonjol, di antaranya
sebagian tulisan sependapat dengan gurunya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
rahimahullah, sedangkan sebagian lagi merupakan pendapat
pribadi yang berbeda dari pendapat gurunya. Ciri khas ini secara umum
telah menjadi metode yang diikuti oleh para penganut alirah Salafiyyah.
Melalui penelitian, diperoleh beberapa aspek penting dari ciri khas tersebut yaitu:
Pertama: Menjadikan dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai landasan pendapat
Kedua: Mendahulukan pendapat para shahabat
radhiyallahu `anhum daripada para ulama setelahnya
Ketiga: Luas dan Lengkap
Keempat: Kebebasan memilih pendapat paling kuat
Kelima: Penjelasan panjang tentang perbandingan pendapat
Keenam: Upaya memahami kelebihan syariat dan hikmah pensyariatan
Ketujuh: Perhatian kepada illat hokum dan alasan pengambilan dalil
Kedelapan: Sensitifitas dan kepekaan terhadap perasaan masyarakat
Kesembilan: Daya tarik dalam metode dan penjelasan
Kesepuluh: Organisasi dan penyusunan kerangka yang baik.
Kesebelas: Sangat jelas dalam ketawadhu-an, permohonan dan doa.
HUBUNGANNYA DENGAN SYAIKHUL ISLAM IBNU TAIMIYAH
Hubungan dengan Ibnu Taimiyah
rahimahullah memiliki pengaruh
besar dalam kehidupan Ibnu Qayyim baik dalam aspek ilmu maupun amal.
Karena itu, para penulis biografi menyebutkan lama hubungan dan
mulazamahnya dengan Ibnu Taimiyah, dnegan menyebutkan pasti tanggal
permulaan dan akhirnya
Para penulis bersepakat bahwa ia mulai berhubungan dengan Ibnu
Taimiyah pada tahun 712 H, yaitu sejak Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
kembali dari Mesir ke Damaskus dan bermukim di sana hingga wafat pada
tahun 728 H.
Ibnu Qayyim
rahimahullah terus bermulazamah dengannya
sepanjang masa tersebut, artinya selama 16 tahun, Ibnu Qayyim belajar
banyak ilmu dalam berbagai bidang darinya.
IBNU QAYYIM BUKAN FOTOKOPI GURUNYA
Saking besarnya cinta Ibnu Qayyim kepada gurunya dan besarnya
pengaruh gurunya itu terhadapnya, kadang-kadang terlontar pertanyaan –
baik dengan sengaja atau tidak untuk merendahkan kedudukannya – : apakah
Ibnu Qayyim memiliki kepribadian independen ? Ataukah ia telah
meleburkan diri dalam kepribadian gurunya, Ibnu Taimiyah
rahimahullah sehingga ibarat sekedar fotokopi gurunya ?
Bakr Abu Zaid berkata menjelaskan asal-usul pertanyaan ini,
“Ini merupakan salah satu pertanyaan dengki Kautsari terhadap Ibnu Qayyim yang memang banyak ditemukan dalam bukunya.”
Kemudian ia (Bakr Abu Zaid
-Ed) mengutip dari tulisan Kautsari yang berjudul
As-Saifush Shaqil,
hlm.193: “Di buku saya ini, pembaca akan menemukan bantahan terhadap
Ibnu Taimiyah, sebagaimana juga terhadap Ibnu Qayyim. Namun, nama kedua
ini hanya ibarat pantulan suara dari nama pertama dalam seluruh
tulisannya, yang tidak memiliki kepribadian tersendiri, ia selalu berada
di bawah bayang-bayang nama pertama dalam seluruh pendapatnya dan hawa
nafsunya…”
Ia (Bakr Abu Zaid
-Ed) juga mengutip tulisan Kautsari yang berjudul
Shaf`atul Burhan,
hlm. 32: “Ibnu Qayyim Al-Jauziyah secara subtansi tidak berbeda dari
gurunya, keduanya ibarat satu baju, yang satu adalah bagian luarnnya
sedangkan yang lain bagian dalamnya, yang satu berwarna hitam sedangkan
yang lain berwarna putih. Seluruh pekerjaannya hanyalah menjajakan dan
mempromosikan dengan gurunya serta bertaqlid kepadanya dalam segala hal,
ia sama sekali tidak memiliki pendapat tersendiri, meski ilmunya sangat
luas.
Pernyataan Kautsari ini sama sekali tidak ada nilainya, karena ia
tidak menguatkan pernyataannya dengan bukti. Ia hanya menyatakan
tuduhannya begitu saja, tanpa bukti dan argumentasi. Masalahnya,
pernyataan ini cukup laris di kalangan beberapa ulama dan penuntut ilmu
sehingga pernyataan serupa bisaa terucap dari lidah mereka. Maka,
jadilah ia seakan sebuah fakta yang telah terungkap hakikatnya secara
pasti, tanpa dilihat siapa sebenarnya orang yang mengatakannya.
Sebenarnya pernyataan ini sama sekali tidak benar ketika dikritisi
dengan
beberapa pertimbangan:
- Pertimbangan Pertama; Penjelasan umum tentang referensi Ibnu Qayyim
Tidak diragukan lagi bahwa ketika menulis sebuah buku Ibnu Qayyim
rahimahullah memiliki referensi buku-buku Islam yang sangat luas.
Pembaca menemukan fakta ini secara jelas di dahapannya, di mana
buku-buku Ibnu Qayyim didasarkan pada sejumlah referensi yang disebut di
tengah-tengah pembahasan, di antaranya adalah Abu Hajaj Al-Mizzi,
Syaraf Ibnu Taimiyah, Syihab Al-`Abir, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, dan
lain-lain.
Ini menjadi bukti nyata yang menegaskan kepada pembaca tentang
kedalaman ilmu Ibnu Qayyim, kekayaan materi dan sumber rujukannya. Ia
tidak hanya mengandalkan rujukan gurunya, Ibnu Taimiyah.
Siapa yang memperhatikan salah satu karya tulisannya, niscaya ia
menemukan sifat tersebut terlihat secara menonjol dan nyata. Jika hanya
fotokopi gurunya, apakah perlu mencantumkan referensi yang begitu luas ?
- Pertimbangan Kedua; Ia berbicara tentang berbagai persoalan yang tidak kita lihat terdapat pada karya-karya gurunya
Ini berlaku pada keduanya. Kita menemukan masing-masing dari kedua
syaikh yang mulia ini berbicara dan menulis beberapa bab ilmu yang tidak
dibicarakan dan ditulis oleh yang lain. Di antaranya:
1) Bukunya yang berjudul
Miftahu Daris Sa`adah Wa Mansyuru Wilayatil `Ilmi Al-Waridah.
Tema dan pembahasan dalam buku yang berharga ini secara umum tidak
terdapat dalam tulisan-tulisan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.
2) Bukunya yang sangat bermanfaaat:
Zaadul Ma`ad Fii Hadyi Khairil `Ibad, tentang sejarah, sirah Nabi, sekaligus fiqih, serta penjelasan yang teratur tentang kebisaaan Nabi
shallallahu `alaihi wa sallam
menyangkut amal-amalnya, ibadahnya, hokum-hukum di bidang pengobatan,
dan sebagainya. Silahkan orang-orang yang membantah mendatangkan kepada
kita buku karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang setema dengan buku
ini.
3) Bukunya
Hadil Arwah Ilaa Biladil Afrah,
secara umum tema pembahasannya tidak terdapat dalam buku-buku karya
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Dalam buku ini terdapat banyak pembahasan
tentang metodologi ilmu hadits yang baik.
4) Ensiklopedia Ilmiah yang unik,
Bada`iul Fawaa-id,
yang memuat berbagai penjelasan tentang berbagai persoalan unik dalam
bidang ilmu, bahasa, i`rab, fiqih, tafsir dan sebagainnya yang jarang
terdapat dalam buku-buku karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
rahimahullah.
Semua hal di atas hanya merupakan contoh. Jika kita ingin menjelaskan
hal itu secara panjang lebar, tentu tulisan ini menjadi sedemikian
panjang. Namun, tujuan tulisan ini adalah memberikan sebagain contoh
saja sehingga kita tidak perlu membahas secara keseluruhan.
Setelah ini semua, apakah bisa dibenarkan bila seseoran mengatakan
bahwa Ibnu Qayyim hanyalah pantulan suara dari gurunya dan bahwa
kepribadian Ibnu Qayyim telah melebur dalam kepribadian gurunya ?
Ataukah pernyataan tersebut akan terpatahkan dengan sendirinya setelah
disampaikannya fakta-fakta ilmiah mengenainya?
Demikian pula halnya ucapan seseorang: “
Dia hanyalah bayang-bayang gurunya dalam segala hal”.
Ucapan ini sama sekali tidak benar. Ibnu Taimiyah memiliki karya-karya
yang sangat banyak di berbagai bab ilmu yang tidak dibahas dalam
karya-karya Ibnu Qayyim, di antaranya:
1) Bukunya
Minhajus Sunnah An-Nabawiyyah Fii Naqdi Kalamir Rafidhah Wal Qadariyyah, jika kita perhatikan, kita tidak menemukan Ibnu Qayyim menulis bantahan terhadap golongan Rafidhah kecuali sedikit saja.
2) Bantahan-bantahan Ibnu Taimiyah terhadap para filosof dan
ahli mantiq yang sangat banyak. Orang yang memperhatikan buku-buku Ibnu
Qayyim akan menemukan bahwa ucapan beliau yang berupa komentar atau
kritik terhadap mereka tidak mencapai sepersepuluh yang disampaikan oleh
Ibnu Taimiyah, semoga Allah melimpahkan rahmat kepada keduanya.
3) Persoalan Tauhid Uluhiyyah seperti Tawasul, ziarah kubur baik
yang syirik maupun yang sesuai sunnah, serta berbagai hal yang terkait
dengannya, maka karya tulis Ibnu Qayyim mengenai hal ini sangat sedikit
sekali dibandingkan dengan yang disampaikan oleh Ibnu Taimiyah. Beliau
mempunyai banyak buku dan tulisan yang berbicara mengenainya.
Contoh lain mengenai hal ini banyak sekali
Perbandingan ini menunjukkan bahwa masing-masing dari kedua ulam ini
menulis berdasarkan penalarannya yang benar, akal yang sehat, dan
pikiran produktif yang melahirkan banyak ilmu dan pengetahuan yang telah
dipahami dan teruji guna memberikan obat yang tepat bagi penyakit
masyarakat yang hidup semasa dengannya.
- Pertimbangan Ketiga; Beberapa pendapat yang beliau pilih berbeda dengan pendapat gurunya
Alasan ini bisa dilihat ketika dilakukan penelitian dan perbandingan
antara pendapat – pendapat yang telah dipilih oleh kedua ulama ini, Ibnu
Taimiyah dan Ibnu Qayyim
rahimahumallah, dalam beberapa masalah yang mereka bahas.
Beberapa pendapat beliau yang berbeda dengan gurunya di antaranya tentang:
- 1. Hukum yang melaksanakan haji ifrad dan haji qiran, apakah keduanya harus memfasakh haji dan umrah ataukah tidak ?
Ibnu Taimiyah berpendapat wajibnya melakukan hal itu bagi para
shahabat dan dibolehkannya hal itu dilakukan oleh orang-orang sesudah
mereka. Sedangkan Ibnu Qayyim memiliki pendapat yang berbeda,
pertama,
beliau berpendapat bahwa semuanya, baik shahabat maupun orang-orang
setelah mereka, wajib memfasakh haji manjadi umrah. Ibnu Qayyim
rahimahullah berkata dalam
Zaadul Ma`ad, ketika menyebut terjadinya perbedaan pendapat mengenai hal tersebut,
kedua, kekhususan kewajiban para shahabat
radhiyallahu `anhum
dan itu merupakan pendapat yang dipilih oleh guru kami, semoga Allah
mensucikan ruhnya. Beliau mengatakan: ‘Dulu mereka diwajibkan memfasakh
haji menjadi umrah disebabkan adanya perintah Rasulullah
shallallahu `alaihi wa sallam
untuk melakukannya. Beliau mewajibkan hal itu kepada mereka dan marah
kepada para shahabat ketika mereka tidak bersegera melaksanakan perintah
itu. Adapun hokum kebolehannya berlaku bagi seluruh ummat hingga hari
kiamat.’
Tetapi Ibnu Abbas
radhiyallahu `anhuma tidak sependapat
dengan itu, beliau menyatakan kewajiban memfasakh haji menjadi umrah ini
berlaku bagi seluruh ummat hingga hari kiamat. Maka setiap orang yang
melaksanakan haji ifrad maupun qiran, sedangkan ia belum menggiring
hewan kurban, maka ia wajib bertahallul. Dan ia harus berstatus halal,
meski tidak menginginkannya.
Saya (Ibnu Qayyim) lebih cenderung kepada pendapat Ibnu Abbas daripada pendapat guru kami.”
- 2. Tentang Ilat Riba pada empat jenis: gandum, barley, kurma, dan garam
Ibnu Taimiyah memilih pendapat bahwa ilatnya adalah statusnya sebagai
makanan yang ditakar atau ditimbang, adapun Ibnu Qayyim menguatkan
pendapat Imam Malik yang menyatakan bahwa ilatnya adalah statusnya
sebagai makanan pokok.
- 3. Juga masalah keraguan mengenai bejana. Apabila
terjadi keraguan untuk memastikan antara air yang suci dengan air yang
najis, bolehkah berwudhu dari salah satunya atau tidak?
Ibnu Taimiyah berpendapat bahwa boleh berwudhu dari bejana yang
manapun dikehendakinya, berdasarkan alasan bahwa air itu tidak menjadi
najis kecuali dengan terjadinya perubahan. Adapun Ibnu Qayyim
berpendapat untuk beralih kepada alternatif lain, yaitu bertayamum.
Contoh lain mengenai hal ini banyak sekali, ini hanya sebagiannya.
Baiklah, barangkali beberapa alasan di atas cukup bagi orang yang
bersikap objektif dan bisa mematahkan alasan para pencela, sekaligus
menjadi penjelasan yang menunjukkan bahwa tuduhan ini tidak didasari
oleh penilaian yang adil dan benar. Hanya Allah yang memberi hidayah ke
jalan yang lurus,
Wallahu a `lam.
GURU – GURUNYA
Ibnu Qayyim
rahimahullah memiliki banyak guru. Hal itu karena semangatnya yang tinggi dalam menuntut ilmu. Di antara guru – gurunya adalah:
- Ayahnya: Abu Bakar bin Ayub Az-Zar`i
- Abu Bakar Ahmad bin Abdudaim Al-Maqdisi, w. 718 H.
- Ahmad bin Abdul Halim bin Abdussalam, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, w. 728 H.
- Abul Abbas Ahmad bin Abdurrahman Asy-Syihab Al-`Abir, w. 697 H.
- Ismail bin Muhammad Al-Fara` Al-Harrani, Syaikhul Hanabilah, w. 729 H.
- Ismail Yusuf bin Maktum Al-Qaisi Asy-Syafi`i, w. 716 H.
- Ayub bin Ni`mah Al-Kahal An-Nablusi Ad-Dimasyqi, w. 730 H.
- Sulaiman bin Hamzah bin Ahmad bin Qudamah Al-Maqdisi Al-Hanbali, Ahli Hadits dan Qadhi besar Syam, w. 715 H.
- Syarafuddin Abdullah bin Abdul Halim bin Taimiyah An-Numairi, saudara Syaikhul Islam, w. 727 H.
- Isa bin Abdurrahman Al-Mutha`im, Ahli Hadits di zamannya, w. 709 H.
- Fatimah binti Syaikh Ibrahim bin Mahmud Al-Bathaihi Al-Ba`li, seorang wanita ahli hadits, w. 711 H.
- Badr Ibnu Jama`ah: Muhammad bin Ibrahim bin Jama`ah Al-Kanani
Asy-Syafi`I, seorang Imam yang termasyhur dan memiliki banyak karya
tulis, w. 733 H.
- Muhammad bin Abi Fath Al-Ba`albaki Al-Hanbali, beliau seorang ahli fiqih, bahasa, dan nahwu, w. 709 H.
- Dzahabi: Muhammad bin Ahmad bin `Utsman Adz-Dzahabi, seorang ulama yang masyhur, ahli sejarah Islam, w. 748 H.
- Muhammad Shafiyyudin bin Abdurrahim Al-Armawi Al-Hindi Asy-Syafi`i, seorang ahli fiqih dan ushul fiqih, w. 715 H.
- Zamlakani: Muhammad bin Ali Al-Anshari Asy-Syafi`I putra Khatib
Zamlaka lalu ia menerima jabatan Qadhi Aleppo. Ia menguasai berbagai
bidang ilmu pengetahuan, w. 727 H.
- Ibnu Muflih: Muhammad bin Muflih Al-Maqdisi Al-Hanbali, w. 763 H.
- Al-Mizzi: Yusuf bin Abdurrahman Al-Qadha`i Ad-Dimasyqi, yang dijuluki Imamul Muhadditsin (Imam para Ahli Hadits) dan Khatimul Huffazh (penutup para hafizh), w. 742 H.
MURID – MURIDNYA
Banyak orang yang berguru kepadanya – karena keimaman, keutamaan
serta keilmuannya – yang kemudian menjadi ulama muktabar, di antaranya:
- Putranya: Ibrahim, Burhanuddin bin Muhammad bin Abu Bakar Az-Zar`i, ia seorang yang sangat cerdas luar biasa, w. 756 H.
- Ibnu Katsir: Ismail Imaduddin Abul Fida` bin Umar bin Katsir
al-Quraisyi Asy-Syafi`i, seorang imam dan hafizh yang termasyhur, w. 774
H.
- Ibnu Rajab: Abdurrahman bin Ahmad Al-Hanbali, penulis banyak buku yang bermanfaat, w. 795 H.
- As – Subki: Ali bin Abdul Kafi As-Subki, w. 756 H.
- Adz – Dzahabi: ia juga merupakan gurunya, jadi masing-masing saling berguru.
- Ibnu Abdil Hadi: Muhammad Syamsuddin bin Ahmad bin Abdul Hadi
Al-Maqdisi, Ash-Shalihi Al-Hanbali, seorang hafizh dan kritikus, seorang
imam yang cukup popular, w. 797 H.
- An-Nablusi: Muhammad bin Abdul Qadir An-Nablusi Al-Hanbali, popular dengan Al-Jinnah, w. 797 H.
- Al-Ghazzi: Muhammad bin Muhammad bin Khudhar Al-Ghazzi Asy-Syafi`i w. 808 H.
- Al-Fairuz Abadi: Muhammad bin Yaqub Abu Thahir Asy-Syafi`i, penulis Al-Qamus Al-Muhith dan memiliki banyak karya tulis lainnya, w. 817
- Muhammad bin Muhammad bin Abu Bakar Al-Quraisyi Al-Muqari At-Tilmisani, w. 759 H.
- Dan tak terhitung murid-muridnya yang lain.
KARYA TULISNYA
Ibnu Qayyim
rahimahullah, otaknya tajam pena-nya mengalir.
Karena itu, banyak karya tulisnya dan ia termasuk jago di bidang ini,
selain itu, ia seorang yang jujur dan amanah, karena itu Al-Hafizh Ibnu
Hajar mengatakan:
“Semua karya tulisnya digemari para pembaca dari berbagai kelompok.” Jumlah buku yang ditulisnya mencapai seratus, di antaranya sebagai berikut:
1. Al – Ijtihadu wa Taqlid
2. Ijtima`ul Juyusy Al-Islamiyyah `ala Ghazwil Mu`aththilah wal Jahmiyyah
3. Ahkamu Ahlidz Dzimmah
4. Asma`u Mu`allafati Ibni Taimiyyah.
5. Ushulut Tafsir
6. Al-I`lamu bit-tisa`I Thuruqil Ahkam
7. I`lamul Muwaqqi`in `an Rabbil `alamin
8. Ighasatul Lahfan min Mashaa-idisy Syaithan
9. Ighasatul Lahfan fii Hukmi Thalaqil Ghadhban
10. Iqtidha`udz Dzikri bi Hushulil Khairi wa Daf“isy Syarri
11. Al-Amali Al-Makiyyah
12. Amtsalul Qur`an
13. Al-Ijazu
14. Bada`i-ul Fawaa-id
15. Buthlanul Kimiya`I min Arba`in Wajhan
16. Bayanul Istidlali `ala Isytirathi Muhallilis Sibaqi wan Nidhal.
17. At-Tibyanu fii Aqsami Qur`an
18. At-Tahbir lima Yahillu wa Yahrumu min Libasil Harir
19. At-Tuhfatul Makiyyah
20. Tuhfatul Maududi fii Ahkamil Maulud
21. Tuhfatun Nazilin bi Jiwari Rabbil `alamin
22. Tadribur Ri`asah fil Qawa`idil Hukmiyyah bidz-Dzaka`I wal Qarihah
23. At-Ta`liqu `alal Ahkam
24. Tafdhilu Makkah `alal Madinah
25. Tahdzibu Mukhtasari Sunnan Abi Dawud
26. Al-Jami` Bainas Sunani wal Atsari
27. Jala`ul Afhami Fish Shalati was Salami `alal Khairil Anami
28. Jawabtu `Abidish Shalbani wa Anna maa hum `alaihi Diinusy Syaithaan.
29. Al-Jawaabusy Syaafi liman sa`ala `an Tsamaratid Du`a-I Idzaa Kaana maa Qad Quddira Waaqi`.
30. Haadil Arwaahi ilaa Bilaadil Afraahi
31. Al-Haamilu Hal Tahiidhu Am Laa?
32. Al-Haawii.
33. Hirmatus Simaa`i.
34. Hukmu Taarikhish Shalaah
35. Hukmu Ighmaami Hilaalil Ramadhaan
36. Hukmu Tafdhiili Ba`dhil Aulaadi `ala Ba`dhin fil `Athiyyah
37. Ad-Daa`u Wad Dawaa`u yaitu yang popular dengan judul: Al-Jawaabul Kaafi liman sa`ala `anid Dawaa`isy Syaafi
38. Dwaa`ul Quluub
39. Rabii`ul Abraari fish Shalaati `alan Nabiyil Mukhtaar
40. Ar-Risaalah Al-Halabiyyah fith Thariiqah Al-Muhammadiyyah
41. Ar-Risaalah Asy-Syaafiyah fii Ahkaamil Mu`awwidzatain.
42. Risaalatu Ibnil Qayyim ilaa Ahadi Ikhwaanih
43. Ar-Risaalah At-Tabuukiyyah
44. Raf`ut Tanzil
45. Raf`ul Yadain fish Shalaah
46. Raudhatul Muhibbiin wa Nuzhatul Musytaaqin
47. Ar-Ruuh
48. Ar-Ruuh wan Nafs
49. Zaadul Musaafirin ilaa Manaazilis Su`ada`I fi Hadyi Khaatimuil Anbiyaa
50. Zaadul Ma`aad fii Hadyi Khairil `Ibaad
51. As-Sunnah wal Bid’ah
52. Syarhul Asma`il Kitaabil `Aziz
53. Syarhul Asma`il Husnaa
54. Syifaa`ul `Aliil fii Masaa`ilil Qadhaa`i Wal Qadari wal Hikmati wa Ta`liil
55. Ash-Shabru wa Sakan
56. Ash-Shiraathul Mustaqiim fii Ahkaami ahlil Jahiim
57. Ash-Shwaa`iqul Munazzalah `alal Jahmiyyah wal Mu`aththilah
58. Ath-Thaa`uun
59. Thibbul Quluub
60. Thariiqul Hijratain wa Baabus Sa`aadatain
61. Ath-Thuruq Al-Hukmiyyah fis Siyaasah Asy-Syar`iyyah
62. Thariiqatul Basha`ir ilaa Hadiiqatis Saraa`ir fii Nuzhumil Kabaa`-ir
63. Thalaaqul Haa`idh
64. `Uddatush Shaabiriin Wa Dzakhiiratusys Syaakiriin
65. `Aqdu Muhkamil Ahibbaa`i bainal Kalimith Thayyib wal `Amalish Shaalih al-Marfuu`i ilaa Rabbis Samaa-i
66. Al-Fataawaa
67. Al-Fathul Qudsiy
68. Al-Fathul Makkiy
69. Al-Farqu banal Khullah wal Mahabbah
70. Al-Furuusiyyah
71. Al-Furuusiyyah Asy-Syar`iyyah
72. Fadhlul `Ilmi wa Ahlihi
73. Fawaa-idu fi Kalaami `alaa Haditsil Ghamaamah wa Haditsil Ghazaalah wadh Dhabb
74. Al-Fawaa-id
75. Qurratu `Uyuunil Muhibbin wa Raudhatu Quluubil `Aarifin
76. Al-Kaafiyatusy Syaafiyatu fin Nahwi
77. Al-Kaafiyatusy Syaafiyatu fl Intishaari lil Firqatin Naajiyah
78. Al-Kabaa-ir
79. Kasyful Ghithaa`I `an hukmi Simaa`il Ghinaa`i
80. Al-Kalimuth Thayyibu wal `Amalush Shaalihu
81. Al-Lamhah fir Raddi `alaa Ibni Thalhah.
82. Madaarijus Saalikiin baina Manaazili: Iyyaaka Na`budu wa Iyyaaka Nasta`in
83. Al-Masaa`iluth Tharabluusiyyah
84. Ma`aanil Adawaati wal huruufi
85. Miftaahu Daaris Sa`aadati wa Mansyuuru Alwiyatil `Ilmi wal Iraadah
86. Muqtadhas Siyaasati fi Syarhi Nukatil Hamaasah
87. Al-Manaarul Muniifu fiish Shahiihi wadh Dha`iifi
88. Manaaqibu Ishaaqi Ibni Raahuyah
89. Al-Mauridush Shaafi wazh Zhillul Waafi
90. Maulidun Nabiyyi Shallallahu `alaihi wa sallam
91. Al-Mahdiy
92. Al-Muhadzdzab
93. Naqdul Manquuli wal Mahkul Mumayyizi bainal Maqbuul wal Marduud
94. Nikaahul Muhrim
95. Nuurul Mu`min wa Hayaatuhu
96. Hadiyyatul Hayaaraa fii Ajwibatil Yahuudi wan Nashaaraa
97. Waadhihus Sunan.
Itulah beberapa buku yang dipastikan merupakan karya Ibnu Qayyim sebagaimana dijelaskan oleh Bakr Abu Zaid.
NASIB BUKU – BUKUNYA
Mungkin ada yang bertanya, mengapa banyak buku karya Ibnu Qayyim yang
hilang, begitu pula karya – karya gurunya, Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyah?
Jawabannya: Ibnu Qayyim
rahimahullah menghadapi permusuhan
yang sengit semasa hidupnya dan setelah wafatnya masih terdapat
orang-orang yang tidak suka jika pandangan cemerlang Ibnu Qayyim tetap
bertahan. Akibatnya buku-buku karyanya dan karya gurunya, Syaikhul Islam
dikumpulkan dan dibakar oleh musuh-musuh dakwah kepada manhaj salaf
ini.
Salah seorang yang berperan besar dalam pembakaran buku-buku tersebut adalah
Amir Abdul Qadir bin Muhyidin Al-Husaini Al-Jazairi, w. 1300 H, ketika ia bermukim di Damaskus.
Syaikh Al-Albani
rahimahullah mengatakan dalam
“Muqaddimah Al-Kalimatuth Thayyib”: “Salah
seorang amir yang tinggal di Damaskus pada abad lalu, seorang yang
memiliki kekuasaan dan harta cukup besar, mengumpulkan buku-buku karya
Syaikhul Islam dan muridnya, Ibnu Qayyim, lalu membakarnya. Jika ia
tidak berhasil meyakinkan pemiliknya supaya membakar buku tersebut, maka
ia membelinya atau memintanya. Kadang-kadang ia menggunakan cara lain
untuk memusnahkannya, karena pembelaannya terhadap madzhab huluul dan ittihaad (wihdatul wujud).
Pandangan ini telah dibongkar kepalsuannya oleh Ibnu Qayyim dengan
hujjah-hujjah dari Allah yang sangat kuat.” Hal itu dikarenakan “sang
amir” menganut madzhab ini.”
PUJIAN ULAMA KEPADANYA
Sebagian pujian tersebut telah dikemukakan dalam pembicaraan mengenai
ilmu seperti pujian dan penjelasan mengenai kedudukan dan derajat
keilmuannya yang agung.
Al-Hafizh Ibnu Rajab
rahimahullah berkata mengenainya:
“Aku
tidak pernah melihat orang yang lebih luas ilmunya dan lebih mengetahui
makna-makna al-Qur’an dan As-Sunnah serta hakikat-hakikat keimanan,
yang melebihi Ibnu Qayyim, Ia bukan seorang yang ma`shum, tetapi saya
tidak pernah melihat dalam bidang ini orang yang seperti dia.”
Al-Hafizh Ibnu Hajar
rahimahullah berkata:
“Ia seorang pemberani, luas ilmunya, mengerti berbagai masalah khilafiyah dan madzhab – madzhab para salaf”
As-Suyuti berkata:
“Ia menulis buku, berdiskusi, dan berijtihad
sehingga termasuk ulama besar di bidang Tafsir, Hadits, Furu`,
Ushuluddin, dan Ushul Fiqh, serta Bahasa Arab.”
Al-Alusi berkata:
“Ia seorang pakar di bidang Tafsir, Nahwu, Ushul dan Kalam”
Maraghi berkata:
“Ia seorang ahli Ushul, Hadits Nahwu, dan Sastra juga seorang juru nasihat dan khatib.”
Telah dikemukakan pula komentar Ibnu Rajab:
“… ia menguasai
berbagai bidang ilmu keislaman. Ia memiliki pengetahuan Tafsir yang tak
tertandingi, tentang ushuluddin yang paripurna, juga tentang hadits
berikut makna, fiqih, dan detail persoalan pengambilan kesimpulan
darinya yang tiada dikuasai oleh orang lain. Begitu pula tentang fiqih
dan Ushul Fiqh, Bahasa Arabnya luas, begitu pula ilmu kalam, nahwu, dan
sebagainya. Ia mengerti ilmu Suluk (Tasawuf) serta ucapan, isyarat dan
seluk-beluk ahli tasawwuf. Ia memiliki wawasan luas dalam berbagai
bidang ilmu.”
WAFATNYA
Beliau
rahimahullah wafat pada malam Kamis, 13 Rajab ketika adzan Isya` tahun 751 H. dengan demikian usianya genap 60 tahun.
Esok harinya ia dishalatkan di Masjid Jami` Umawi, selepas shalat
Dzuhur, kemudian di Masjid Jami` Jarah. Para hadirin yang mengantar
jenazahnya penuh sesak.
Ibnu Katsir berkata, “Penguburan jenazahnya sangat ramai, disaksikan
oleh para qadhi`, tokoh dan orang-orang shalih biak dari kalangan elit
maupun awwam. Orang-orang berdesakkkan untuk memikul kerandanya.”
Ia dimakamkan di Damaskus di Pemakaman
Bab Shagir, berdampingan dengan ibunya, semoga Allah melimpahkan rahmat kepada keduanya.
[Disadur dari Kitab Ighasatul Lahfan min Mashaa-idisy Syaithan,
Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, tahqiq: Khalid Abdul Lathif As-Saba` Al-`Alami,
cetekan. I Darul Kitab Al-Araby, Beirut, edisi terjemahan: Ighasatul
Lahfan Menyelamatkan Hati dari TIpu Daya Setan “Edisi Lengkap” Cetakan.
IV (Edisi Lengkap Revisi), Desember 2011 M, Pustaka Al-Qowam.]
diambil langsung dari: maktabahmanhajsala.blog.com